Setiap tanggal 24 Mei diperingati sebagai Hari Skizofrenia Sedunia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap skizofrenia dan pentingnya dalam menjaga kesehatan mental. Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa penyintas skizofrenia membutuhkan dukungan dan pemahaman, bukan stigma maupun diskriminasi.
Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang memiliki pandangan negatif terhadap skizofrenia akibat kurangnya edukasi dan pemahaman. Padahal, skizofrenia merupakan gangguan kesehatan mental yang dapat ditangani melalui bantuan profesional dan dukungan sosial yang memadai. Oleh karena itu, Hari Skizofrenia Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan empati serta menghapus stigma terhadap penyintas skizofrenia.
Stigma Terhadap Penderita Skizofrenia
Skizofrenia merupakan gangguan mental yang ditandai dengan gangguan pola pikir, emosi, dan perilaku sehingga memengaruhi kemampuan individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Menurut Keliat et al. (2014), skizofrenia termasuk gangguan jiwa berat yang ditandai dengan gangguan realitas, gangguan kognitif, serta kesulitan dalam menjalankan fungsi sosial. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kehidupan individu dengan skizofrenia, tetapi juga sering menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat.
Di sisi lain, kurangnya pemahaman masyarakat mengenai skizofrenia sering kali menimbulkan stigma dan diskriminasi terhadap individu dengan skizofrenia. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang memiliki pandangan negatif sehingga individu dengan skizofrenia kerap merasa dikucilkan dan kesulitan memperoleh dukungan sosial maupun bantuan profesional. Menurut Bilhaq et al. (2026), kondisi tersebut dapat memengaruhi interaksi sosial, menurunkan rasa percaya diri, serta menghambat proses pemulihan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi dan kesadaran masyarakat agar stigma terhadap individu dengan skizofrenia dapat berkurang serta tercipta lingkungan yang lebih suportif terhadap kesehatan mental.
Pentingnya Menghapus Stigma terhadap Skizofrenia
Stigma terhadap individu dengan skizofrenia masih menjadi permasalahan yang sering ditemukan di masyarakat. Individu dengan skizofrenia kerap menerima pelabelan negatif, seperti “gila”, “tidak normal”, dan dianggap tidak mampu menjalani kehidupan sosial dengan baik. Stigma tersebut menyebabkan banyak individu merasa dikucilkan, kehilangan rasa percaya diri, serta mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial di lingkungan sekitarnya. Menurut Prasetyo dan Gunawijaya (2017), stigma sosial dapat menimbulkan rasa takut dan marah pada individu dengan skizofrenia sehingga mereka cenderung menutup diri karena tidak ingin identitasnya diketahui masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan mental agar tidak lagi memberikan diskriminasi maupun pelabelan negatif terhadap individu dengan skizofrenia.
Selain itu, dukungan sosial dan lingkungan yang suportif memiliki peran penting dalam membantu proses pemulihan individu dengan skizofrenia. Melalui edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat, stigma terhadap skizofrenia diharapkan dapat berkurang sehingga individu dengan skizofrenia dapat lebih diterima, dihargai, dan mampu menjalani kehidupan sosial dengan lebih baik.
Dukungan Sosial Terhadap Penderita Skizofrenia
Dukungan sosial memiliki peran penting dalam proses pemulihan individu dengan skizofrenia. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar dapat membantu individu merasa lebih diperhatikan, dihargai, serta meningkatkan interaksi sosial dan kesejahteraan psikologisnya. Selain itu, dukungan sosial juga dapat membantu mengurangi stres serta memberikan rasa aman bagi individu dengan skizofrenia maupun caregiver dalam menghadapi berbagai tantangan selama proses perawatan (Fitriana & Budiarto, 2021).
Selain membantu proses pemulihan, dukungan sosial yang baik juga membantu keluarga dan individu dengan skizofrenia dalam menghadapi stigma sosial yang masih sering muncul di masyarakat. Melalui dukungan emosional, pemberian informasi, dan lingkungan yang suportif, proses pemulihan dapat berjalan lebih optimal sehingga kualitas hidup individu dengan skizofrenia dapat meningkat (Poegoeh & Hamidah, 2016).
Peran Masyarakat dalam Menghapus Stigma
Upaya mengurangi stigma terhadap individu dengan skizofrenia dapat dimulai dari lingkungan sekitar. Masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang suportif dan penuh empati bagi individu dengan gangguan mental. Salah satu bentuk dukungan yang dapat dilakukan adalah tidak memberikan pelabelan negatif, tidak mengucilkan individu dengan skizofrenia, serta menggunakan bahasa yang lebih baik dan tidak diskriminatif.
Selain itu, peningkatan edukasi mengenai kesehatan mental perlu dilakukan agar masyarakat memiliki pemahaman yang lebih tepat tentang skizofrenia. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat menyadari bahwa individu dengan skizofrenia tetap memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan secara produktif apabila memperoleh penanganan dan dukungan yang tepat. Sikap empati, penerimaan sosial, dan kepedulian terhadap kesehatan mental diharapkan dapat membantu mengurangi stigma serta meningkatkan kualitas hidup individu dengan skizofrenia di tengah masyarakat.
Daftar Pustaka
Bilhaq, M. R., Wahyuningsih, S., Trisilowaty, D., & Hendariningrum, R. (2026). Pengalaman komunikasi penyintas gangguan mental dalam menghadapi stigma sosial. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis, 11(2), 157–171.
Fitriana, A., & Budiarto, E. (2021). Dukungan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis caregiver pada pasien skizofrenia: Literature review. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, 1323–1331.
Keliat, B. A., Akemat, Helena, N., & Nurhaeni, H. (2014). Keperawatan kesehatan jiwa komunitas. Jakarta: EGC
Poegoeh, D. P., & Hamidah. (2016). Peran dukungan sosial dan regulasi emosi terhadap resiliensi keluarga penderita skizofrenia. INSAN, 1(1), 12–21.
Prasetyo, F. A., & Gunawijaya, J. (2017). Manfaat kelompok dukungan bagi orang dengan schizophrenia untuk meningkatkan pengendalian diri: Studi kasus pada Komunitas Peduli Schizophrenia Indonesia (KPSI) Jakarta. Sosio Konsepsia, 6(3), 221–234.