Gangguan Bipolar: Memahami Kondisi, Mengurangi Stigma

Kesehatan mental kini menjadi isu yang semakin sering mendapat perhatian di kalangan Mahasiswa. Berbagai faktor, seperti tekanan akademik, tuntutan sosial, hingga ekspektasi terhadap masa depan kerap kali memengaruhi kondisi psikologis individu. Salah satu gangguan mental yang tergolong kompleks namun masih sering disalahpahami adalah gangguan bipolar.

Sebagian orang masih menganggap bipolar sebagai sekadar perubahan suasana hati biasa. Padahal, kondisi ini jauh lebih serius karena dapat berdampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk hubungan sosial, aktivitas akademik, serta kesejahteraan individu secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi Mahasiswa untuk memahami gangguan bipolar guna meningkatkan kesadaran serta mengurangi stigma yang masih melekat di masyarakat.

Pengertian

Gangguan bipolar merupakan gangguan mental yang bersifat kronis atau episodik, dengan kemunculan gejala yang dapat terjadi pada interval yang tidak teratur  (Ramadani et al., 2024). Kondisi ini ditandai oleh perubahan suasana hati yang tidak biasa, bahkan cenderung ekstrem, serta disertai fluktuasi pada suasana hati, energi, aktivitas, dan kemampuan berkonsentrasi. Dengan demikian, gangguan bipolar dapat dipahami sebagai kondisi yang menyebabkan perubahan signifikan dalam suasana hati, aktivitas, serta tingkat energi individu.

Gejala

Gangguan bipolar ditandai oleh perubahan suasana hati yang ekstrem dan tidak stabil antara fase mania dan depresi. Pada fase mania, individu mengalami peningkatan energi, antusiasme, serta rasa percaya diri yang tinggi. Sementara itu, pada fase depresi, individu mengalami perasaan sedih yang mendalam, kelelahan, kesepian, dan ketidakberdayaan. Pergantian antara kedua fase tersebut menjadi ciri utama gangguan bipolar (Astriliana & Kustanti, 2024).

Perubahan tersebut dapat terlihat melalui berbagai gejala yang memengaruhi emosi dan perilaku individu dalam rentang waktu beberapa hari hingga beberapa minggu. Gejala yang muncul antara lain peningkatan energi, berbicara dengan cepat, kesulitan tidur, penurunan nafsu makan, gangguan konsentrasi, serta perilaku impulsif dan berisiko. Selain itu, individu juga dapat mengalami perasaan sedih berkepanjangan, merasa tidak berharga, mudah marah, serta kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai (Ramadani et al., 2024).

Penanganan

Gangguan bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati biasa, melainkan kondisi serius yang memerlukan perhatian serta penanganan yang tepat. Dalam kehidupan yang penuh tekanan, penting bagi setiap individu untuk lebih peka terhadap kesehatan mental, baik diri sendiri maupun orang di sekitarnya. Penanganan gangguan bipolar melibatkan kombinasi pengobatan dan terapi, serta dukungan dari lingkungan sekitar untuk membantu individu dalam mengelola gejala dan aktivitas sehari-hari (Ramadani et al., 2024). Melalui pemahaman yang lebih baik, kita dapat menciptakan lingkungan yang suportif, mengurangi stigma terhadap gangguan mental, serta mendorong individu untuk berani mencari bantuan profesional.

Daftar Pustaka

Astriliana, M., & Kustanti, E. R. (2024). Pengalaman sebagai pasien dengan gangguan bipolar tipe I (sebuah interpretative phenomenological analysis). Jurnal Empati, 13(1), 78–89.

Ramadani, I. R., Fadila, A. N., Aulia, R., Khairiyyahni, S., & Lestari, W. (2024). Gangguan bipolar pada remaja: Studi literatur. Edu Society: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 1219–1227.

Leave a Comment