Doorway Effect

Doorway Effect?

 

Kita semua pernah mengalaminya, bukan? Naik ke lantai atas untuk mengambil kunci, tetapi tiba-tiba lupa apa yang ingin kita cari begitu masuk ke kamar tidur. Membuka pintu lemari es namun kemudian menyadari kita tidak ingat untuk apa awalnya kita membuka pintu lemari es. Atau saat kita sedang ingin menginterupsi teman untuk bertanya hal penting, tapi begitu kita berhasil menyela, kita malah lupa hal apa yang ingin kita katakan. Kejadian semacam itu cukup memalukan, tapi kejadian-kejadian semacam itu adalah hal yang umum kita alami. Hal ini disebut “doorway effect”, sebuah fenomena yang sebenarnya mampu mengungkapkan fitur penting tentang bagaimana pikiran kita tersusun.

Selagi kita beraktivitas, perhatian kita beralih dari satu level ke level lainnya, dari cita-cita dan ambisi ke perencanaan dan strategi, hingga ke level paling bawah yaitu aksi nyata alias konkret. Ketika semua hal berjalan lancar, seringnya di situasi yang familiar, kita akan fokus pada hal yang kita inginkan, dan bagaimana meraih itu sepertinya terjadi begitu saja, secara otomatis.

Jika Anda mahir mengemudi, maka Anda akan mengatur gigi, indikator, dan setir secara otomatis dan pikiran Anda mungkin bisa dialihkan ke hal-hal yang tidak rutin seperti mengamati lalu lintas atau berbicara dengan penumpang Anda. Ketika kita berada di situasi yang tidak biasa, kita harus lebih memperhatikan secara detail apa yang kita lakukan, dan itu sejenak membawa pikiran kita jauh dari ‘gambaran besar’. Karena itu, percakapan bisa tiba-tiba berhenti ketika pengemudi berada di persimpangan jalan yang riuh atau ketika mesin kendaraan mulai terdengar aneh dari biasanya. Bagaimana perhatian kita turun dan naik di hierarki aksi inilah yang memungkinkan kita berperilaku kompleks, menyusun rencana lain di atas berbagai momen, di banyak tempat, atau dengan membutuhkan berbagai aksi.

Doorway Effect” terjadi ketika perhatian kita beralih dari satu level ke level lain dan itu mencerminkan betapa tergantungnya memori kita – bahkan memori tentang apa yang ingin kita lakukan – pada lingkungan di sekitar kita. Bayangkan ketika Anda naik ke lantai atas untuk mengambil kunci di kamar tidur, lalu tiba-tiba lupa untuk apa Anda naik ke atas begitu Anda memasuki kamar tidur. Secara psikologis, apa yang terjadi adalah tujuan (yaitu “kunci”) terlupakan bahkan ketika kita sedang melakukan tindakan nyata untuk mewujudkannya (yaitu “pergi ke kamar tidur”). Mungkin rencana “mengambil kunci di kamar tidur” itu juga bagian dari rencana yang lebih besar, misalnya “bersiap untuk meninggalkan rumah”, yang tentu adalah bagian dari rencana yang lebih besar dan besar lagi, misalnya “pergi kerja”, “pertahankan pekerjaan Anda”, “produktif dan jadilah warga yang bertanggung jawab”, atau lainnya. Tiap level dari rencana tersebut membutuhkan perhatian di titik tertentu.

Di saat otak kita ‘mengemudi’ di hierarki yang kompleks ini, kebutuhan untuk mengambil kunci muncul di pikiran, seperti pemain sirkus yang berusaha menjaga piring-piring berputar di atas tiang, perhatian Anda fokus ke hal itu cukup lama untuk mengkonstruksi rencana, tetapi kemudian beralih ke hal lain (seperti berjalan ke kamar tidur, atau apa yang akan Anda lakukan ketika Anda sampai kantor, atau satu juta hal lain yang Anda butuhkan dalam hidup). Dan kadang piring berputar itu jatuh. Memori kita, bahkan tujuan-tujuan kita, berada di jaring asosiatif. Ini bisa berarti lingkungan fisik di mana kita membayangkannya, itulah mengapa mengunjungi rumah masa kecil bisa mengingatkan kita pada kenangan-kenangan yang sebelumnya terlupa, atau bisa juga lingkungan mental – rangkaian hal-hal yang kita pikirkan ketika satu hal muncul di kepala.

Doorway Effect” terjadi karena kita berada pada lingkungan fisik dan mental yang berbeda, bergerak dari satu ruang ke ruang lain dan berpikir tentang banyak hal yang berbeda. Karena itu, tujuan yang terburu-buru kita raih, yang mungkin hanya satu piring di antara banyak piring yang coba kita putar akan terlupakan ketika konteks berubah, ketika fokus kita berubah ke piring lain. Ini adalah sebuah jendela menuju bagaimana kita mengorganisir untuk mengkoordinasikan tindakan kompleks, mencocokkan rencana dengan aksi sehingga memungkinkan diri kita meletakkan batu bata yang tepat untuk mendirikan ‘katedral hidup kita’.

 

 

Galeri Scholarship Plus 1-5

Alhamdulillah telah terlaksana kegiatan Scholarship Plus Chapter 1 – 5 pada tanggal:
Senin, 12 November 2018
Senin, 26 November 2018
Kamis, 6 Desember 2018
Selasa, 11 Desember 2018
Kamis, 20 Desember 2018

Dengan materi sebagai berikut:

1. Tokoh-tokoh Psikologi

2. Sensori Persepsi, Memori, Berpikir & Bahasa

3. Analisa Film

4. Laporan Kegiatan

5. Makalah Tokoh Muslim

Scholarship Plus 5

Kegiatan Scholarship Plus yang kelima dilaksanakan pada Kamis, 20 Desember 2018 di Lantai 4 Ruang 409 UHAMKA Limau. Pembahasan materi pada kegiatan ini berfokus pada mata kuliah Agama Islam dengan materi membuat makalah tugas akhir.

Berikut rangkuman materi scholarship plus yang kelima

Materi Scholarship Plus ke 5
Makalah tokoh muslim
aspek-aspek yang harus ada dalam makalah tersebut yaitu :
1. Pilihlah tokoh muslim yang kalian anggap ideal dan dapat menjadi contoh bagi orang lain
2. Setelah menemukan tokoh muslim yang ideal, anda dapatu mendeskripsikan biografi tokoh tersebut kedalam makalah yg kalian buat
3. Deskripsikan kepribadian tokoh yang membuat tokoh menjadi sosok muslim yang ideal
contoh: Taat beribadah kepada Allah Swt baik yang wajib maupun yang sunah (dapat menyertakan ayat Al- Quran dan hadis sebagai pendukung). deskripsikan secara mendital dengan beberapa kepribadian ataupun kegiatan yang tokoh lakukan.
4. Kemudian tulislah berapa persen kemiripan kalian dengan tokoh muslim yang kalian pilih
5. Lalu sertakan footnote atau bodynote sebagai bukti referensi

Talkshow Anti Korupsi

Kami selaku BEM Fakultas Psikologi UHAMKA (Bidang III Sosial dan Politik) mengadakan acara Talkshow Anti Korupsi dengan tema “Korupsi Merajalela, Mahasiswa Bisa Apa?”. Dari sini, dapat terlihat bahwa hal yang ingin kami capai adalah bagaimana caranya agar mahasiswa aktif Fakultas Psikologi UHAMKA  bisa peka terhadap permasalahan-permasalahan yang bersinggungan dengan korupsi. Karena, korupsi tak hanya soal yang besar-besar saja, korupsi dimulai dari hal kecil.

Acara Talkshow Anti Korupsi ini terlaksana pada hari Sabtu, 15 Desember 2018 di Aula Lantai 4 Kampus A UHAMKA. Ada 3 bentuk kegiatan dalam acara ini; yaitu talkshow, penampilan mahasiswa aktif dan doorprize.  Dengan adanya tiga bentuk kegiatan dalam Talkshow Anti Korupsi, kami berharap acara ini dapat menjadi ajang bagi para mahasiswa aktif Fakultas Psikologi UHAMKA untuk bisa tahu dan peka terhadap permasalahan-permasalahan korupsi yang terjadi di sekitar mereka.

Berikut dokumentasi keseruan dari acara tersebut:

Scholarship Plus 4

Kegiatan Scholarship Plus yang keempat dilaksanakan pada Selasa, 11 Desember 2018 di Lantai 4 Ruang 409 UHAMKA Limau. Pembahasan materi pada kegiatan ini berfokus pada mata kuliah Hubungan Interpersonal (HI) yaitu membuat proposal kegiatan (event) mata kuliah HI.

Berikut rangkuman materi pada Scholarship Plus yang keempat:

Materi Scholarship Plus ke 4
Proposal Kegiatan Hubungan Interpersonal
Dalam proposal terdapat beberapa Bab dan sub bab yaitu:
– Cover
– Daftar Isi
– Kata Pengantar
BAB I
– Latar Belakang
– Tujuan Kegiatan
– Manfaat Kegiatan
BAB II
– Rencana kegiatan (biaya, peserta, acara/kegiatan, pembagian tugas)
– Pelaksanaan
– Testimoni personal masing-masing anggota kelompok
BAB III
kesimpulan dan saran
– lampiran (Foto kegiatan, bukti pengeluaran, surat tugas dari fakultas)

 

Hari Ibu

🎵kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia🎵

Kalian pasti tahu kan lirik lagu di atas? Pastinya pernah menyanyikan lagu tersebut bukan? Lagu ini adalah Lagu Kasih Ibu yang dikarang oleh S. M Mochtar.

Ibu adalah orang pertama yang akan selalu ada untuk kita. Ibu adalah orang pertama yang akan mendekap kita apabila kita ketakutan. Ibu adalah orang pertama yang hadir ketika kita membutuhkan sosok untuk mencurahkan isi hati. Ibu adalah orang pertama yang datang ketika kita bimbang akan segala pilihan keputusan yang ada di hadapan. Ibu adalah perwujudan sosok kehangatan yang mampu memberi kasih sayang untuk anak-anaknya. Ibu adalah orang pertama yang berani menyerahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk melindungi kita, anaknya.

Tidak ada kasih yang lebih tulus dari kasih ibu yang tak pernah terhingga hingga akhir masa.

Tahukah kamu? Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928.

Selamat hari Ibu kepada semua ibu-ibu di seluruh penjuru dunia! We love you mom! Terima kasih ibu, pengorbananmu akan selalu kukenang.

Scholarship Plus 3

Kegiatan Scholarship Plus yang ketiga dilaksanakan pada Kamis, 6 Desember 2018 di Lantai 4 Ruang 409 UHAMKA Limau. Pembahasan materi pada kegiatan ini berfokus pada mata kuliah DDP (Dasar-Dasar Psikologi) dengan materi tentang analisa film.

Berikut rangkuman hasil pembahasan pada Scholarship Plus yang ketiga:

Analisa film yang dilakukan yaitu mencari aspek-aspek psikologi yang terdapat pada film.

Sensori dan Persepsi

-Sensori merupakan proses menangkap stimulus menggunakan alat indera.

-Persepsi merupakan proses yang didahului oleh pengindraan terhadap suatu stimulus yang kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan oleh individu.

Contoh: seseorang mempersepsikan bahwa di dalam majalah yang ia lihat penuh dengan kode-kode rahasia yang harus dipecahkan.

 

Memori

Memori merupakan sesuatu yang dapat menerima, menyimpan dan memproduksi kembali informasi.

Contoh: seseorang yang mengingat kejadian di masa kecil.

 

Berpikir dan Bahasa

-Berpikir merupakan proses memanipulasi informasi secara mental, seperti membentuk konsep abstrak; menyelesaikan masalah; mengambil keputusan; refleksi kritis atau kreatif.

-Bahasa adalah bentuk komunikasi baik verbal, tertulis, maupun dengan isyarat yang didasarkan pada sistem simbol.

Contoh: seseorang yang memikirkan keadaan saudaranya kemudian menceritakan hal tersebut dengan orang lain.

 

Intelegensi

Intelegensi adalah kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir.

Contoh: seseorang yang mampu memecahkan masalah yang sedang dialami.

 

Motivasi

Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Contoh: seseorang yang berkeinginan untuk sembuh dari sakit yang sedang dialami.

 

Emosi

Emosi merupakan perasaan subyektif yang didasari oleh kesadaran terhadap perubahan otomatis dari faktor-faktor internal yang berkaitan dengan emosi.

Contoh: seseorang marah karena melihat keadaan rumah yang berantakan.

 

Cabang Ilmu Psikologi

Menentukan cabang ilmu psikologi yang berkaitan dengan film, yaitu:

-Psikologi Klinis

-Psikologi Sosial

-Psikologi Perkembangan

-Psikologi Pendidikan

-Psikologi Industri dan Organisasi, dll

Film yang dianalisa dalam pertemuan Scholarship Plus yang ketiga adalah film “Inside Out”

Berikut penjelasan aspek-aspek yang ada pada film “Inside Out”

1. Sensori Persepsi
Contoh: saat Takut merasakan “ketakutan” melihat lelaki dengan pakaian lengkap beserta palu pemukul hadiah dimonitor

2. Memori
Contoh: saat Riley menangis dan bercerita di depan kelas di sekolah barunya, ia mengingat kembali saat tinggal di rumah lamanya

3. Berpikir dan Bahasa
Contoh: saat Riang melihat jembatan ia berpikir bahwa jembatan itu bisa membawanya pulang ke pusat.

4. Intelegensi
Contoh: saat Riang berusaha mencari jalan keluar untuk menuju pusat bersama Si Sedih

5. Motivasi
Contoh: saat Sedih merasa bersalah karena perbuatanya, Riang pun memotivasi bahwa itu bukan semua salah Si Sedih dan mencoba mengajak sedih untuk kembali ke kantor pusat.

6. Emosi
Contoh:
-saat Riley membentak ayahnya di meja makan
-saat Sedih menangis karena merasa bersalah terhadap Riley
-saat Riley menangis karena merasa bersalah ingin kabur dari rumah

7. Cabang Ilmu Psikologi
Contoh :

Psikologi Sosial
Psikologi Sosial Menurut Myers psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari bagaimana individu berpikir, mempengaruhi dan berhubungan satu dengan yang lainnya.
-Atribusi (persepsi sosial) .
Relay mempersepsikan bahwa lingkungan baru atau lingkungan rumah yang baru mereka tinggali tidak senyaman lingkungannya dulu sehingga membuat Relay tampak tertekan di lingkungan barunya.
– Sosial Influence (pengaruh sosial)
karena Relay bersekolah di sekolah baru dan Relay juga belum bisa beradaptasi, hal tersebut memengaruhi emosi Relay yang awalnya seorang periang menjadi lebih pendiam dan pemarah.

 

Berikut foto dokumentasi pada Scholarship Plus 3:

 

Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia)

Apa itu korupsi?

Menurut KBBI,  “korupsi” /ko·rup·si/ n artinya penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.

Menurut persepektif hukum, definisi korupsi secara gamblang telah dijelaskan dalam 13 buah Pasal dalan UU No. 31 Tahun 1999 s/d UU No. 20 Tahun 2001. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi dirumuskan ke dalam tiga puluh bentuk tindak pidana korupsi. Pasal-pasal tersebut menerangkan secara terperinci mengenai perbuatan yang bisa dikenakan pidana penjara karena korupsi. 

Pada dasarnya, ketigapuluh bentuk tindak pidana korupsi tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Kerugian keuangan negara

2. Suap menyuap

3. Penggelapan dalam jabatan

4. Pemerasan

5. Perbuatan curang

6. Benturan kepentingan dalam pengadaan

7. Gratifikasi

Selain bentuk tindak pidana korupsi di atas, masih ada tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi yang tertuang pada UU No. 31 Tahun 1999 s/d UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Jenis tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi itu adalah:

1. Merintangi proses pemeriksaan korupsi

2. Tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar

3. Bank yang tidak memberikan keterangan rekening tersangka

4. Saksi atau ahli yang tidak memberi keterangan atau memberi keterangan palsu

5. Orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau memberi keterangan palsu

6. Saksi yang membuka identitas pelapor

 

Bagi masyarakat Indonesia, korupsi adalah sesuatu yang harus dilawan dan diperangi. Saat ini Indonesia sedang gawat korupsi, menurut data Political Economic and Risk Consultancy pada tahun 2005, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara terkorup di Asia. Jika kita telisik dari kenyataan sehari-hari, korupsi hampir terjadi di setiap tingkatan dan aspek kehidupan masyarakat. Tanpa kita sadari, “budaya” korupsi bisa muncul dari kebiasaan kita sehari-hari yang dianggap wajar alias lumrah oleh masyarakat umum. Mulai dari pelajar yang sering menyontek, mahasiswa yang menyewa orang untuk mengerjakan skripsinya, mengurus Ijin Mendirikan Bangunan, proyek pengadaan di instansi pemerintah, proses penegakan hukum, memberi imbalan atau hadiah kepada pejabat atau pegawai negeri atau keluarganya. Kebiasaan itu dipandang lumrah dilakukan sebagai bagian dari budaya ketimuran. Kebiasaan koruptif ini lama-lama akan menjadi bibit-bibit korupsi yang nyata. Karena korupsi besar-besaran yang kita lihat selama ini timbul dari korupsi-korupsi skala kecil yang terus-terusan terjadi dan dianggap lumrah oleh masyarakat sekitar.

 

Korupsi yang terus-terusan menjamur di masyarakat akan memberi dampak yang berbahaya bagi masa depan Indonesia itu sendiri, bahkan bukan hanya pada satu aspek kehidupan, tapi banyak aspek. Korupsi menimbulkan efek domino yang meluas terhadap eksistensi bangsa dan negara. Korupsi memiliki berbagai efek penghancuran yang hebat, khususnya dalam sisi ekonomi sebagai pendorong utama kesejahteraan masyarakat. Harus ada pelopor penggerak anti korupsi yang mampu menggebrak perubahan besar di Indonesia agar Indonesia bisa terbebas dari korupsi. Indonesia butuh jiwa-jiwa penggerak anti korupsi, dan siapa lagi yang bisa menjadi penggerak anti korupsi selain pemuda? Pemuda memiliki peran yang krusial dan sangat penting bagi keberlangsungan masa depan Indonesia. Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas para pemudanya.

Pemuda khususnya mahasiswa adalah aset paling menentukan kondisi zaman tersebut dimasa depan. Mahasiswa salah satu bagian dari gerakan pemuda. Belajar dari masa lalu, sejarah telah membuktikan bahwa perjalanan bangsa ini tidak lepas dari peran kaum pemuda yang menjadi bagian kekuatan perubahan. Tokoh-tokoh sumpah pemudah 1928 telah memberikan nasionalisme bahasa, bangsa dan tanah air yang satu yaitu Indonesia. Peristiwa sumpah pemuda memberikan inspirasi tanpa batas terhadap gerakan-gerakan perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Peran tokoh-tokoh pemuda lainnya adalah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, lahirnya orde baru tahun 1966, dan reformasi tahun 1998 tidak dapat dipungkiri bahwa dalam peristiwa-peristiwa besar tersebut mahasiswa tampil di depan sebagai monitor penggerak dengan berbagai gagasan, semangat dan idealisme yang mereka miliki dan jalankan. Untuk konteks sekarang dan mungkin masa-masa yang akan datang yang menjadi musuh bersama masyarakat adalah praktek bernama korupsi. Peran penting mahasiswa tersebut tidak dapat dilepaskan dari karakteristik yang mereka miliki, yaitu: intelektualitas. Jiwa muda dan idealisme.

Selain itu, ada peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) yang diperingati setiap tanggal 9 Desember. Peringatan ini bisa menjadi ajang bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menyuarakan pendapatnya tentang korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyelenggarakan serangkaian acara untuk peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia). Acara tersebut dilaksanakan pada Selasa sampai Rabu, 4-5 Desember 2018 di Hotel Bidakara, Jakarta. Rangakaian acara Hakordia ini secara resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan dilanjutkan dengan Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi (KNPK).

 

Korupsi Merajalela, Mahasiswa Bisa Apa?”

Selamatkan Indonesia, ayo lawan korupsi!

 

Selamat Hari Anti Korupsi Sedunia!

Scholarship Plus 2

Kegiatan Scholarship Plus yang kedua dilaksanakan pada Rabu, 26 November 2018 di Lantai 4 Ruang 409 UHAMKA Limau. Pembahasan materi pada kegiatan ini berfokus pada mata kuliah DDP (Dasar-Dasar Psikologi) dengan materi tentang Sensori-Persepsi, Memori, serta Berpikir dan Bahasa.

Berikut rangkuman hasil pembahasan pada Scholarship Plus yang kedua:

SENSORI PERSEPSI
sensori: proses menangkap stimulus menggunakan alat indera
persepsi: proses pemahaman atau pemberian makna atas suatu stimulus

Hambatan sensori:
1. stimulus yang tidak jelas
2. Gangguan Alat Indera
3. Gangguan sensabilitas ( alat indera kurang peka)

Faktor yang mempengaruhi sensori:
1. Kondisi individu
2. Kualitas stimulus
3. Ukuran stimulus
4. Perubahan stimulus
5. Pengulangan dari stimulus
6. Ambang batas stimulus
7. Waktu dalam penginderaan
8. Kontras warna stimulus

Proses persepsi:
1. Stimulus lingkungan
2. Selektivitas persepsi
3. Organisasi perseptual
4. Penapsiran stimulus
5. Persepsi

MEMORI
Memori adalah kemampuan untuk meneriman, menyimpan dan menimbulkan kembali apa yang telah dialami

Proses penyimpanan memori :
1. Encoding: proses menerima apa yang dipersepsi
2. Storage: proses penyimpanan
3. Retrieval : menimbulkan kembali apa yang telah dialami

Jenis- jenis Memori:
1. Memori jangka panjang
informasi dipertahankan sekitar 30 detik
2. Memori jangka pendek
menyimpan informasi secara permanen

Jenis pengukuran ingatan :
1. Tes ingatan langsung
– tes rekognisi : tes yang menyertakan petunjuk
contoh : soal pilihan ganda
– tes recall : tes yang tidak menyertakan petunjuk
contoh : soal esai
2. Tes ingatan tidak langsung
contoh : Mengaitkan masalah dengan teori

Kelupaan
Kelupaan adalah kegagalan dalam mengingat

Teori Kelupaan
1. Teori lupa Decay Theory  lupa karena ingatan sudah sangat lama

2. Trace-Change Theory: lupa akibat penuaan

3. Motivated Forgetting Theory:  lupa karena adanya repression (sengaja dilupakan)

4. Retrieval- Forgetting Theory: lupa akibat tidak adanya isyarat pada ingatan tersebut

5. Interference Theory: keberadaan satu ingatan menghambat ingatan lainnya

 

BERPIKIR dan BAHASA

Berpikir adalah proses memanipulasi informasi secara mental
contoh: membentuk konsep, menyelesaikan masalah & mengambil keputusan Bahasa adalah bentuk komunikasi di mana pikiran seseorang disimbolisasikan dengan kata.

Hubungan berpikir dan bahasa:
Bahasa merupakan sarana berpikir

Pembentukan Konsep
-Proses pengelompokan objek, peristiwa, atau ide yang serupa ke dalam satu kategori.
-Proses pembentukkan konsep merupakan bagian dari proses berpikir.
2 Proses pembentukan konsep :

1. Asosiasi merupakan proses menghubungkan dua hal atau lebih yang terjadi berulang kali. (contoh suara mangkok dan tukang bakso)

2.Pengujian Hipotesa, menekankan pada proses berpikir karena tidak selalu membutuhkan kemunculan. Menentukan apakah hipotesa benar atau salah

Pengambilan Keputusan
Dalam pengambilan keputusan sehari-hari aspek psikis mempengaruhi fakta sehingga fakta dapat diabaikan dan terjadi pengaburan.
Kesalahan dalam pengambilan keputusan:
1. Fallacy of Reification, kesalahan karena individu mengamsusikan yang tidak nyata menjadi nyata

2. Ad Hominem and Personal Argument
dua bentuk kesalahan pengambilan keputusan karena kesalahan posisi inidividu

3. Argument That Appeal to Force and Power, kesalahan penarikan kesimpulan dan pengambilan keputusan yang dilakukan untuk membenarkan perilaku tertentu

4. Appeal to Authority and/or Fame, memiliki konsep yang hampir sama dengan diatas, tapi kesalahan ada pada pemegang otoritas

5. Majority Must Be Right Argument, kesalahan pengambilan keputusan akibat pemahaman bahwa yang dilakukan oleh sebagian besar orang adalah hal yang benar.

6. The Straw Man Argument, kesalahan penarikan kesimpulan karena menjadikan argumen yang paling lemah dan tidak esensial untuk menolak keseluruhan argumen.

Penyelesaian Masalah:
-Merupakan proses berpikir yang mengarah pada pemecahan masalah spesifik yang melibatkan respons serta selektif terhadap alternatif respons. Merupakan gabungan dari beberapa konsep; pembentukan konsep dan penyelesaian masalah
-Tahapan penyelesaian masalah; mengidentifikasi masalah, merepresentasikan masalah, merencanakan solusi, menjalankan rencana, mengevaluasi rencana, mengevaluasi solusi.
-Mengidentifikasi masalah berarti berpikir mengenai masalah yang akan hadir di masa yang akan datang

 

Berikut dokumentasi dari kegiatan Scholarship Plus yang kedua: